Home »
Guru Penggerak
,
Merdeka Belajar
,
Pendamping Guru Penggerak
,
Pusdatin
,
Rumah Belajar Kemdikbud
,
SimpaTIK
» Tantangan Rumah belajar di masa pandemic dan masa Depan
Tantangan Rumah belajar di masa pandemic dan masa Depan
Pada kesempatan ini saya akan menuliskan sedikit tentang pemikiran saya terkait
portal rinstisan Kemdikbud melalui Pusdatin, yang sudah sejak tahun 2013 familiar dan
menjadi salah satu portal gratis bagi kalangan guru dan siswa. Portal ini dapat
di akses oleh semua jenjang pendidikan formal dari tingkat TK/PAUD, SD, SMP, SMA, bahkan untuk orang tua dan
umum. Fitur-fitur dalam portalnya juga sudah sangat menarik. Semua isi dalam
konten yang menyediakan berbagai pembelajaran sangat membantu guru dan siswa
untuk proses pembelajaran. apalagi pembelajaran di masa pandemi ini. Saya sendiri mengenal portal rumah belajar sejak
mengikuti seleksi Duta Rumah Belajar pada tahun 2018. Sejak saat itu saya sudah
memanfaatkan portal Rumah Belajar untuk membantu saya dalam proses pembelajaran
di kelas. Saya juga sudah membuat kelas maya di portal rumah belajar, untuk memudahkan
siswa dalam mengerjakan soal secara daring. Sebelumnya pada tahun 2016, saya
pernah mengikuti pelatihan daring yang di selenggarakan oleh Seamolec, yaitu
tentang kelas Maya Edmodo. Saya mengikuti pelatihannya hingga selesai dan
memperoleh sertifikat. Selanjutnya saya di percayakan oleh Seamolec menjadi
mentor bagi peserta yang mendaftar untuk pelatihan daring tersebut pada Batch 3.
pada saat itu sekolah saya SD Negeri 5 Masohi merupakan Satu-satunya SD di Kecamatan Kota Masohi, Kab. Maluku Tengah, yang sudah
mengajak siswa untuk meggunakan Android dan laptop sebagai alat untuk ulangan
secara daring. Jika dilihat dari segi ekonomi, tidak semua siswa yang orang
tuanya mampu untuk membeli smartphone kepada anaknya. Ada juga siswa yang sudah
memiliki smartphone namun tidak memilki uang untuk membeli pulsa data. Saya
selalu mengakali dengan cara, saya membeli pulsa data, kemudian saya share
hotspot kepada siswa yang memiliki smartphone. Bagi siswa yang tidk memiliki
android atau laptop, saya mengarahkan untuk memakai laptop saya atau android
teman yang sudah selesai mengerjakan soal daring. Selama siswa melakukan ulangan
secara daring, saya tidak lagi menggandakan soal sesuai jumlah siswa saya di
kelas. Bahan ulangan dari kertas, tidak lagi saya pakai, untuk menghemat biaya
penggandaan soal yeng menggunakan dana BOS. Dengan adanya siswa melaksanakan
ulangan menggunakan andoird dengan segala keterbatasan, saya menjadi sorotan di
sekolah. Nah ini yang menjadi tantangan bagi saya, karena siswa di larang untuk menggunakan HP di sekolah terutama di dalam kelas, dengan alasan
tidak konsentrasi dalam pembelajaran. Kalau untuk orang tua sih,
mereka mendukung saja, namun ada sebagian juga mengeluh karena pulsa data. Baru
berjalan dua kali ulanga harian, akirnya saya hentikan untuk kegiatan belajar
dan ulangan secara daring. Setelah saya mengikuti PembaTIK tahun 2018 yang di selenggarakan oleh Pustekkom Kemdikbud (sekarang Pusdatin), saya di
perkenalkan dengan fitur rumah belajar yang sangat kompleks. Menjadi daya tarik
saya dan siswa saat memanfaatkan portal rumah belajar. Disitu juga tersedia
pembuatan kelas maya bagi siswa untuk mengerjakan soal secara daring. Mirip
seperti edmodo, kelas maya Rumah Belajar sangat di tunjang dengan video
pembelajarn yang merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahakn. Sehingga siswa
dapat mengakses video untuk belajar, sbelum mengerjakan soal di kelas maya. Hal
ini menjadi pertimbangan saya pada saat memanfaatkan kelas maya di Edmodo dan
kelas maya di Rumah Belajar. Suatu perbandingan bagi diri saya ya, tidak tau
yang lain, karna ini pengalaman yang saya dapat sendiri. diantaranya Kelas
Digital Rumah Belajar masih celah, siswa terkadang tidak langsung terinput ke
kelas, ada jeda dan harus berkali-kali. Pola quiz di rumah belajar hanya memberi
satu jenis soal, multiple choice, tidak bisa acak jawaban dan soal Equation
Matematika belum bisa diketik, serta tidak bisa latex dan tidak bisa vicon.
Sebenarnya di edmodo juga tidak bisa vicon sih. Nah, perbandingan itu menjadi
tantangan di masa Pandemi covid 19 ini. Para siswa dan guru learning from home,
baik secara daring maupun luring. Banyak platform yang mudah di akses oleh
peserta didik dan guru, bahkan biar mahal pun mereka beli, asalkan sangat
kompleks dan menunjang segala segi pembelajaran. Mohon maaf disini saya hanya
mencari solusi terkait pemanfaatan portal rumah belajar yang memiliki fasilitas
yang mungkin di idamkan oleh para siswa dan guru. Dengan adanya belajar dari
ruamh, para orang tua tidak tinggal diam dalam menunjang anakanya belajar dari
rumah, karena takut ketinggalan pelajaran, anaknya tidak pintar dan lain
sebagainya. Berbagai cara yang di lakukan untuk mencari promosi portal yang
menarik dan sangat membantu untuk anaknya bisa belajar melalui internet atau
promosi lewat media lainnya. tak sungkan jika memang itu berbayar, dan berupaya
untuk mencari jaringan internet yang bisa di jangkau. Entah menggunakan pulsa
data, wifi, atau indihome. Kepala sekolah pun mengarahkan gurunya untuk
memanfaatkan sesuai kempuan guru dalam menggunakan teknologi, karena
keterbaatasan guru dalam mengelola IT. saya karena sudah terbiasa dengan Portal
Rumah Belajar, selain Gratis, juga mudah di akses sehingga membantu saya dalam
proses pembelajaran. siswa saya dapat saya arahkan langsung ke Portal Rumah
Belajar Kemdikbud untuk melihat berbagai sumber pembelajaran yang menunjang materi yang di
ajarkan.






0 komentar:
Posting Komentar